Jumat, 04 November 2016

Khusyuk

Istilah khusyuk dalam sholat sering menjadi momok yang paling susah dilakukan. Kata Ali bin Abi Thalib khusyuk itu tempatnya di dalam hati, barang siapa bisa memusatkan pikiran hanya kepada Allah dan terlepas dari pikiran dunia, maka itulah khusyuk. Khusyuk juga diartikan tuma'nina (tenang) tidak tergesa-gesa.

Banyak orang apabila ditimpa musibah, entah kehilangan, atau keadaan yang tidak bersahabat mampu membuat sholat menjadi khusyuk. Padahal apabila kita lihat lebih dalam tentang arti khusyuk, maka musibah belum tentu bisa menyebabkan sholat  khusyuk. Mengapa? Karena khusyuk itu tidak memikirkan duniawi, sedangkan ketika musibah datang maka pikiran dalam sholat selain Allah yang dipikirkan, terlintas juga pikiran tentang musibah itu. Jadi tidaklah benar Musibah dapat membuat manusia khusyuk.


Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat yang sangat memperhatikan ke khusyukan sholatnya. Beliau pernah terkena panah saat berperang, dan meminta mencabut panah itu saat iaenjalankan sholat, agar tidak terasa. Meskipun demikian ketika nabi Muhammad SAW mengetest Ali bin Abi Thalib ternyata Ali gagal khusyuk.
Hal-hal yang akan mendatangkan kekhusyukan ada beberapa kiat yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW diantaranya :

a. Mempersiapkan diri sepenuhnya untuk Sholat.
Adapun bentuk-bentuk persiapannya yaitu, ikut menjawab adzan yang dikumandangkan oleh muadzin kemudian diikuti dengan membaca doa yang diisyaratkan, bersiwak (menggosok gigi) karena hal ini tentunya akan membersihkan mulut dan menyegarkannya, kemudian memakai pakaian yang baik dan bersih.

b. Tumakninah
Rasulullah SAW selalu melakukan tumakninah dalam setiap sholatnya, hingga seluruh anggota badan Rasulullah SAW menempati posisi semula. Bahkan Rasulullah SAW memerintahkan orang yang buruk shalatnya supaya untuk melakukan tumakninah, sebagaimana sabda beliau ; {“ Tidak sempurna Sholat mereka (salah seorang dari kalian), kecuali dengannya (tumakninah) “}.

c. Mengingat mati ketika Sholat
Hal ini berdasarkan wasiat dari baginda Rasulullah SAW yang bersabda ; {“ Apabila engkau sedang sholat, maka sholatlah seolah-olah engkau hendak pisah (mati) “} (HR. Ahmad)

d. Menghayati makna bacaan Sholat
Sikap penghayatan itu tidak akan terwujud kecuali dengan memahami makna dari setiap bacaan sholat kita. Karena dengan memahami makna bacaan sholat tersebut, sesorang akan mampu menghayati serta berfikir tentang (makna dari setiap langkah) sholat itu, sehingga kita akan mengucurkan air mata, karena pengaruh makna yang mendalam dari dalam lubuk hati kita.

e. Membaca surah sambil berhenti pada tiap ayat-ayatnya
Hal ini merupaka kebiasaan dari Rasulullah SAW yang telah dikisahkan oleh Ummu Salamah mengenai bagaimana Rasulullah SAW dalam membaca Al-Fatihah ;{“ Rasulullah SAW membaca basmalah kemudiann berhenti, kemudian membaca ayat-ayat berikutnya kemudian berhenti. Demikianlah seterusnya hingga Rasulullah SAW selesai sholat “} (HR. Abu Daud).

f. Membaca Al-Qur’an dengan Tartil
Membaca dengan perlahan dan tartil lebih mampu dalam membantu untuk merenungi setiap ayat-ayat yang dibacanya serta dapat mendatangkan kekhusyukan dalam sholat. Sebaliknya dengan membaca tergesa-gesa akan menjaukan hati ini dari kehusyukan dalam sholat.

g. Meyakini bahwa Allah SWT akan mengabulkan permintaannya yang sedang melaksanakan sholat
Rasulullah SAW pernah bersabda dalam hadits Qudsi yakni ; {“ Allah SWT berfirman, ‘Aku membagi sholatku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku setiap apa yang dia minta. Jika mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, Aku berfirman, hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Jika dia mengucapkan Maaliki Yaumiddiin, Aku berfirman, hamba-Ku telah memuliakan dan mengagungkan-Ku “} (HR. Muslim).

h. Meletakkan Sutrah (tabir pembatas), dan mendekatkan diri kepadanya
Hal ini bermaksud untuk memperpendek dalam menjaga penglihatan orang yang sedang melaksanakan sholat, sekaligus menjaga diri dari lalu lalangnya orang yang lewat disekitar kita. Sebab, hilir mudik orang-orang lain di depan orang yang melaksanakan sholat akan dapat mengganggu sekhusyukan.

i. Melihat ke arah tempat Sujud
Sebagaimana dalam hadits {“ Rasulullah SAW jika sedang melakukan sholat, beliau menundukkan kepalanya serta mengarahkan pandangannya ke tanah (tempat sujud) “} (HR. Al-Hakim)

j. Memohon perlindungan kepada Allah SWT dari godaan setan
Dengan memohon kepada Allah SWT dari godaan setan ketika akan melaksanakan sholat akan bisa menambah kekhusukan kita di dalam sholat tersebut.


Khusyuk sulit untuk diraih, bukan hanya pembaca, penulis pun masih jauh dari kata khusyuk. Tetapi yang terpenting adalah selalu berusaha untuk mewujudkannya. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita semua.

Sabtu, 02 Juli 2016

Sholat Hanya Untuk Anak Kecil

 
Sebuah ungkapan yang mencengangkan, ketika ada seseorang yang berkata bahwa sholat hanya untuk anak kecil. Namun pada zaman sekarang hal tersebut menjadi mungkin, bahkan menjadi sangat mungkin. Di sekolah PAUD, Taman Kanak-kanan maupun Sekolah Dasar, pelajaran sholat digalakkan, bahkan menjadi tidak jarang mejadi acuhan utama sekolah di Indonesia.
 

Pelajaran Sholat
 
Semua orang menginginkan yang terbaik untuk masa depan anaknya, tidak hanya di dunia melainkan di akhirat. Hingga akhirnya perintah sholat diberikan sejak belia, sejak anak mulai dapat berpikir, bahkan sebelum anak sekolah. Akan tetapi penyakit hati berupa malas sering menjadi penghalang terlaksananya kewajiban sholat. Orang tua akan senang bila anaknya mampu sholat! Tetapi orang tuanya malah tidak sholat. Guru mengajarkan sholat, menjelaskan bahwa sholat itu wajib, fardlu ‘ain, tetapi guru itu sendiri tidak menjalankan sholat secara rutin.
Orang tua adalah contoh bagi anak-anaknya, sekali saja kita meninggalkan sholat wajib di hadapan anak kita, maka hal tersebut terekam kuat. Apalagi kita meninggalkannya berkali-kali. Maka yang muncul di benak anak adalah “Sholat itu boleh ditinggalkan”.
Seharusnya semakin tinggi usia kita, maka semakin tinggi pula kwalitas sholat kita, karena sejak kecil kita mempelajarinya, sejak kecil kita dibiasakan dengan hal tersebut. Tapi hal itu dapat berkebalikan seiring dengan kepentingan kita terhadap dunia. Maka sudah barang tentu sholat menjadi sajian nomor sekian, bahkan tidak ragu untuk meninggalkan.
Sholat sebagai dasar utama dalam penegakkan agama. Sholat sebagai ukuran awal sebuah muslim yang taat. Sudah seharusnya sholat dijalankan secara rutin dan khusyu, bukan hanya sebagai slogan Wajib yang terus kita tinggalkan.
Imam Al-Ghozali pernah bertanya pada murid-muridnya. Apa yang paling dekat? Apa yang paling jauh? Apa yang paling besar? Apa yang paling berat? Dan apa yang paling ringan? Di dunia ini. Jawabannya yaitu, yang paling dekat adalah “Mati”, orang banyak lalai akan hal ini, mereka menganggap bahwa sebelum tua mereka tidak akan mati. Padahal banyak anak muda setelah minum minuman keras juga meninggal dunia, lalu kapan mereka bertaubat?. Yang paling jauh adalah “Masa lalu”, kita tidak pernah bisa kembali pada masa lalu, maka jangan sia-siakan saat ini, karena sedetik kemudian ia menjadi masa lalu. Yang paling besar adalah “Nafsu”, dasar dari semua perbuatan maksiat adalah hal ini, maka kita harus berhati-hati dengan yang bernama nafsu. Yang paling berat adalah “Amanah”, amanah kita sebagai khalifah di dunia adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangn Allah, slah satu perintah terbesar dalam sejarah adalah sholat, maka amanah ini harus kita jalankan dengan sungguh-sungguh. Dan yang paling ringan di dunia Jawabnya adalah “Meninggalkan sholat”.
Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin, mampu menjalankan sholat wajib dengan baik, lebih-lebih sholat sunah. Mengajak dan memberi contoh kepada anak-anak kita.

Rabu, 29 Juni 2016

Karma

Mata seorang ibu terus menerus digigit semut kecil berjumlah banyak, lebam mayat di tubuhnya sudah mulai kelihatan, tanpa nafas dan gerakan. Ia perempuan tua, janda dengan seorang anak, telah meniggal dunia. Ditemukan di kamarnya, oleh anak dan menantu yang tidak peduli, dan tidak memberinya makan selama beberapa hari. “Tega nian mereka, membiarkan akhir hidupnya menderita dalam kelaparan”, semua orang mengatakan itu dalam hatinya.
“Itu kenapa ya Yah sampai tidak tahu kalu meninggal?”, seorang tetangga bertanya pada ayahnya.
“Itu hukum karma nak...”, selintas peristiwa kemudian mengawang menjejali otak dari sang ayah, tidak ada niat untuk ghibah atau mengumbar kemaksiatan, ia hanya ingin menasehati anaknya, bahwa perbuatan itu tidak boleh dilakukan. Ya itu memang tanggung jawab orang tua.
“Maksudnya Yah??”.
“Wanita itu mendapatkan karma dari apa yang dilakukannya dulu nak... kau tahu... dulu saat perempuan tua itu masih muda ia melakukan hal serupa. Bedanya adalah ia menelantarkan anak dan saat ini ia ditelantarkan”, sang anak menyimak. Dlam pikirannya masih terkecamuk pertanyaan, bagaimana mungkin anak kandung bisa membiarkan orang tuanya menderita kelaparan hingga nafas terakhir.
Kemudian sang ayah meneruskan ceritanya, dulu saat perempuan itu masih muda, ia adalah istri ke dua dari seorang laki-laki yang ditinggal meninggal oleh istri pertama. Dari pernikahan bersama dengan istri pertama ia dikaruniai seorang anak. Dari sini sebuah cerita memilukan dimulai.
Mereka hidup layaknya sebuah keluarga, lalu beberapa waktu berselang istri ke dua juga melahirkan seorang anak laki-laki, mereka pun tumbuh bersama-sama. Darah tidak bisa dibohongi, darah tetaplah darah, dan dalam kehidupannya anak tiri tidak mendapatkan perlakuan yang sama dengan anak kedua, cacian dan makian awalnya hanya dari rebutan mainan, kemudian berkembang menjadi menu makan, baju, perlatan mandi dan lain sebagainya. Kemudian kesenjangan itu sangat terlihat, siksaan demi siksaan diterima setiap hari, tida kata benar untuk anak tiri.
Bulan sabit menggembung, membulat kemudin menyabit kembali, terulang ratusan kali. Matahari bersinar dari fajar hingga waktu ashar setiap hari setiap waktu, hingga akhirnya berganti tahun dan mereka beranjak dewasa. Perlaukan yang sama masih terjadi, dulu mereka masih belia, tidak tahu perbedaan, tidak tahu tentang anak tiri. Sekarang semua berubah, otak mereka berkembang dan mampu berpikir, mana yang baik dan mana yang buruk. Merasa diperlakukan secara tidak adil, setelah menikah anak tiri pergi dari rumah dan membangun rumah tangga sendiri.
Sang ayah telah tiada, dan kini tinggal perempuan tua itu dengan anak kesayangannya yang telah menikah dengan seorang perempuan. Sayang menantuya tidak cocok dengan perempuan tua itu, pertengakaran demi pertengakaran terdengar melengking di telinga, suara makian kerap melayang di udara. Suatu ketika dari pertengakaran itu anaknya membela ibunya, hingga akhirnya si istri kabur darir rumah. Berhari-hari hingga berbulan-bulan istrinya tidak kembali ke rumah. Sebuah kejadian yang menarik untuk disimak, yaitu sesaat setelah istrinya kembali ke rumah itu, rumahnya tersambar petir luar biasa, memporak porandakan televisi yang baru di beli.
Kini seperti sedang tersihir, anak kandungnya tidak lagi membela, setiap keputusan istri ibarat perintah yang tidak bisa ditolak. Perempuan tua itu menjadi ajang omelan menantu dan anaknya sendiri, tidak ada yang bisa membela, bahkan cucu yang berusiad 9 tahun pun mampu memarahinya.
Mungkin saja kehidupannya akan lebih bermartabat bila hidup dengan anak tirinya dulu, karena sebenarnya ia pernah diajak untuk hidup bersama dengan mereka. Tetapi mungkin malu atau merasa bersalah akhirnya ia menolaknya...
Dunia berbalik, si anak tiri yang dahulu di caci maki malah datang membujuknya untuk tinggal bersama, sampai-sampai ia bilang akan merawatnya dengan baik. Hatinya ingin ikut, namun karena perilakunya dahulu, menghalangi untuk menerima tawaran mereka. Kini perempuan itu telah kembali ke pembaringannya, semoga ia telah bertaubat dann mendapat ampunan dari Allah swt.
Sahabat kita tidak pernh tahu sampai kapan kita berada diatas, mendapat kesenangan dan melakukan segala yang kita inginkan dengan mudah. Saat semua kesenangan itu telah dicabut Allah, maka saat itu kadang kita baru tersadar dengan apa yang kita lakukan di masa lalu, teringat dengan segala kemaksiatan yang kita lakukan di masa lampau. Maka wajib hukumnya kita menempatkan segala tidakan kita pada sesuatu yang benar, jangan memandang siapa kita saat ini, bukan memandang siapa orang yang kita hadapi, tapi berbuat baiklah kepada semua. Kembali pada Quran dan Hadist, pada agama yan kita anut. Siapa yang menanam ia akan menuainya, dan sebenarnya hukum timbal balik atau KARMA itu ada!

Senin, 06 Oktober 2014

REJEKI BESAR

REJEKI BESAR
Inspirasi Qolbu

Mentari menyayat pagi, kumandang takbir iedul adha bergema. Seorang muslim, sejatinya hari ini ikut melaksanakan sholat ied. Kecuali mereka yang berhalangan, entah diskon untuk para wanita atau yang lain, misalnya sakit. Pagi ini satu demi satu shaf terisi, senyum manis para jamaah tergambar jelas. Di bibir mereka ada lantunan takbir bak nyanyian merdu, tanpa jenuh untuk mengucap berulang-ulang. Sungguh hari yang luar biasa...



Kegembiraan dan senyum bahagia tidak terputus hanya disitu saja, daging kurban sapi dan kambing akan menjadi makanan tahun bagi mereka. Apalagi harga daging sapi di pasar sangat melambung, satu kilo saja bisa mencapai 90 ribu rupiah. 

Kidung alam, nyanyian angin dan lolong hewan kurban disembelih. Suasana ramai dengan anak dan orang tua mereka, kegembiraan yang baru hilang setelah semua kurban disembelih. 

Kini giliran panitia, sibuk mengiris dan membagi daging kurban. Yang menyita perhatianku kala itu adalah, banyak dari panitia yang sengaja mengambil bagian hewan kurban untuk disimpan terlebih dahulu kemudian dibawa pulang. Aku tidak melakukannya, hanya mengumam dan melihat. Saya takut karena masih panitia baru. Mungkin sudah lama hal ini menjadi tradisi, entah ini kedholiman apa tidak, saya tidak peduli.

Keringat berpadu siang itu, dan akhirnya seluruh aktifitas tentang penyembelihan selesai, termasuk membagikan kepada masyarakat sekitar. Lelah rasanya seharian bergumul dengan daging kurban.

Kini saat yang ditunggu tiba, yaitu pembagian jatah daging kurban untuk setiap panitia. Namun sebelum dibagikan, ketua panitia melihat di pojok sana ada puluhan tulang sapi, teronggok tak berpemilik. Ketua panitia mempersilahkan siapa saja yang menginginkan tulang belulang itu segera mengambilnya. Langsung saja sekian banyak orang berkerumun membagi tulang belulang itu, ada yang membawa satu saja ada yang lebih. Memang saat dilihat mata, tulang belulang itu tidak ada dagingnya, namun kalau dimasak daging yang menempel masih banyak. Meskipun demikan, saya tidak mengambilnya, sedikit malu dan malas membawa. Sudah... sekarang saatnya membagikan daging kurban itu. Aku dapat daging kurban dua jatah, ditambah patu dan hati. Lumayan... nanyi bisa di soto.

Di akhir acara, seorang satpam keamanan, berdiri di samping sak berisi tumpukan kaki sapi dan kambing. Panitia lain bergerak maju, satu orang disuruh mengambil satu kaki sapi. Dia tersenyum sambil melihat teman lain. Satu lagi maju disuruh ambil 2 kaki kambing, hingga akhirnya seorang lain maju minta jatah. Tapi satpam itu membentak
"Tidak!! kau tadi sudah!"
"Kapan?!", orang yang meminta tadi protes.
"Jangan membohongi mataku!, Kau tadi sudah mengambil, saat memotong daging kecil-kecil kan?!", orang itu diam kemudian mundur ke belakang.
"Yang sudah ambil jatahnya tadi sekarang tidak dapat jatah!!", kata satpam itu dengan lantang. Memang tadi saya juga melihat orang tadi membawa irisan daging untuk dibawa pulang. Tidak tahu kalau ternyata Pak satpam itu membawa buku catatan, siapa yang melakukan pungli dicatat.Ada-ada saja, aku pulang membawa dua kaki kambing, pikirku ini buah pegal sejak tadi. Alhamdulillah...

Dalam perjalanan pulang entah mengapa pikiranku mengawang pada 2 ingatan pada pengalaman tadi. Satu, tentang pungutan liar daging kurban. Awalnya saya berpikir itu hal yang tidak baik, lalu aku berpikir hal itu mungkin sudah biasa, semua orang diam saja, baik itu yang tahu maupun yang tidak. Di akhir kegiatan, ternyata orang yang mengambil itu tidak mendapat jatah tambahan. 

Lalu saya berpikir, Apakah juga seperti itu Allah memberi balasan kepada manusia? Awalnya ia memberikan kelonggaran pada pelaku kecurangan, kecurangan apapun, mungkin pencurian, korupsi, menyogok aparat dan lain sebagainya. Diam dan memberikan apa yang diingikannya. Allah tahu dan hanya mencatat amal saja melalui malaikat, seperti yang dilakukan satpam tadi. Setelah membiarkan dengan kesenangan, pada akhirnya Ia memberikan sebuah kebenaran, yaitu menunjukkan pada khalayak bahwa ia salah, dan sebagai ganjarannya ia tidak memperoleh penghargaan berupa kaki sapi atau kambing. Jadi sebenarnya tidak ada tempat untuk bersembunyi dari melakukan sebuah kejahatan, dan Allah akan membalas setiap tindakan dengan dasar kecurangan. Maka berhati-hati terhadap tindakan yang kita lakukan adalah hal yang terbaik.

Dua, ini tentang tulang belulang itu. Allah menjamin rejeki hambanya, tanpa terkecuali. Lalu kenapa kita harua bekerja? Bukankah sudah dijamin?
Coba kita amati tulang belulang tadi, ia dibiarkan saja tergeletak di pojok penyembelihan. Lalu di akhir kegiatan, tulang itu diberikan pada panitia yang mau mengambil. 

Seandainya tadi saya datang ke sana lalu meminta, pasti saya dapat. Berhubung saya tidak menginginkannya, maka secara otomatis tidak dapat. Lalu apa hubungannya dengan rejeki yang dijamin Allah? 

Sebuah gambaran luar biasa melalui tulang belulang itu. Allah mengumpulkan tulang-tulang itu dipojok bangunan, lalu orang yang mau mengerumuni dan membawanya pulang. Mungkin seperti itu juga rejeki Allah, Allah menyediakan rejeki itu ditempat yang Ia kehendaki, baik di lapangan, di internet, di pasar, di sekolah dan lain-lain. Lalu ia memberikan kepada orang yang berusaha mencarinya. Sedangkan yang diam dan melihat saja tidak akan mendapatkan apapun, selain jatah yang diberikan. 

Maka benarlah apa yang ada dalam ayatnya, "Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu merubahnya sendiri". Kalau kita mau berusaha dan bekerja, maka rejeki yang ada di hadapan akan segera kita peroleh. Sebaliknya, kalau kita hanya diam saja, meskipun rejeki ada dihadapan kita, ia akan hilang dan sirna begitu saja... 
Semoga Allah selalu memberikan hidayah kepada kita, untuk selalu mendapaykan pencerahan hati.
Wallahualam bishowab.
/Hb

Kamis, 02 Oktober 2014

CRISPY IKAN CENDOL

USAHA BARU
Camilan renyah bernutrisi tinggi


Sebuah usaha baru dalam bidang makanan, dirintis oleh seorang ibu rumah tangga di sebuah perumahan daerah Lamongan. Namanya adalah Suryati, sebut saja seperti itu.

"Awalnya saya tidak pernah punya niat untuk membuatnya menjadi usaha. Waktu itu saya hanya ingin mecoba membuat ikan crispi dari ikan kecil, katanya kok enak... ", tuturnya. 

Crispy yang sudah dikemas

"Setelah jadi... saya bawakan bekal buat anak saya ke kantor... lha kok teman-temannya pesan... ya saya buatkan...", tambah ibu usia 50 tahun tersebut.

Selanjutnya anak ibu Suryati yang bernama "Anin" bersama dengan seorang teman semeja "Ika", berinisiatif untuk mengembangkan usaha tersebut. Memberi label "Ikan Cendol Crispi", lalu memasarkan ke sejumlah perkantoran, sekarang usaha mereka kebanjiran order.

Sederhana namun indah. Camilan renyah dari ikan kecil, sekelas Teri, tanpa sisik dan menyerupai anak bandeng yang masih kecil. Warnanya putih mengkilat, sedikit transparan sehingga terlihat duri-duri kecil terbungkus daging. Habitat asli ikan ini pada percampuran antara sungai dan air laut, sungai kecil dan sungai buatan manusia yang terhubung langsung dengan sungai. Hal inilah memberikan sensasi gurih tiada tara, sehingga menghasilkan kenikmatan hebat.

Ikan kecil ini diambil secara alami, tanpa menggunakan bahan kimia, masih tradisional, sehingga dapat dipastikan kealamian kandungan tidak tercampur dengan bahan kimia berbahaya. 
Di pasar, ikan seperti ini sangat terbatas penjualnya, oleh karenanya tidak mungkin dibantah sekilo bisa mencapai puluhan ribu. Jangan harap anda akan mendapatkan ikan ini dengan mudah pada setiap pasar, karena penjualnya juga sangat langkah.

Berdasarkan habitat asli dan jenis hewan, dapat diperkirakan kandungan nutrisi di dalamnya. Seperti kebanyakan ikan, ikan yang satu ini meskipun ukurannya kecil, juga banyak sekali mengandung protein. Protein hewani dari jenis hewan air, yang telah dihalalkan dalam Al-Quran meskipun telah menjadi bangkai.

Protein yang kita makan, selanjutnya akan diolah dan digunakan tubuh untuk memperbaiki sel mati dan membentuk organ tubuh, terutama otak. Untuk itulah kenapa hampir seluruh jenis ikan-ikanan, tanpa terkecuali sangat dianjurkan pada anak, nutrisi DHA alami memberikan dampak kecerdasan alami anak, masa perkembangan dan usia lanjut.

Bale-Crispi Ikan Cendol, begitu merk dagang yang dipasarkan. Ketika ditanya tentang kenapa diberi nama ikan cendol, Ika menjawab dengan tersenyum, karena bentuknya setelah dicrispi mirip dawet cendol kesukaannya.

Ada-ada saja, namun semua hal bisa menjadi inspirasi. Ketika melihat bentuk produk ini, lalu diamati akan terlihat ikan kecil terbugkus tepung, mirip cendol. Tapi warnanya tidak hijau, melainkan kuning khas gorengan.

Crispi Ikan Cendol dikemas dalam plastik transparan, diberi label dan merk di bagian atas. Di sana tertulis oleh-oleh asli Lamongan, Bale-Crispi Ikan Cendol. Warna dominan biru muda khas persela dan putih sebagai dasar.

Kemasan plastik ini ada yang 200 gr dan 100 gr. Dipasarkan di sejumlah toko di Kabupaten Lamongan, atau pemesanan langsung pada Ika (085850589618), Anin (085648569801). Dan coba nikmati kealamian sensasi renyah tiada tara. /hb